Posted by : BERITA UNIK
Monday, November 19, 2018

TIKETQQ - Calon wakil presiden dengan nomor urut 01 Ma'ruf Amin memberikan klarifikasi usai munculnya tudingan kepada Presiden Joko Widodo yang dianggap membuat dirinya risih. Tudingan itu, kata Ma'ruf, mengatakan bahwa Presiden Jokowi hanya 'memperalat' dirinya sebagai ulama Nahdatul Ulama (NU) untuk kepentingan Pilpres 2019.
"Ada yang bilang Kiai Ma'ruf ini hanya sebagai 'alat saja', ini isu yang kejam. Masa Rais Aam bisa jadi alat? Kebangetan itu. Jangan didengar," kata Ma'ruf di hadapan para peserta halaqah di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat pada Senin, 22 Oktober 2018.
BANDARQ - Ma'ruf juga menegaskan bahwa dirinya sudah memiliki pengalaman yang cukup dalam bidang politik. Ia menyinggung kembali kiprahnya di badan legislatif, Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) hingga sebagai salah satu Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Ia juga menegaskan, Jokowi memilih dirinya atas pertimbangan yang matang.
Padahal menurut Ma'ruf, Jokowi bisa saja memilih pendamping dari kalangan lain. "Tapi Pak Jokowi memilih saya, (dari kalangan) kiai dan santri. Berarti Jokowi mencintai ulama, mencintai santri," katanya.
Ma'ruf menegaskan, keputusannya untuk mendampingi Jokowi di Pilpres 2019 bukan semata-mata karena persoalan kekuasaan. Ia ingin berkontribusi lebih dengan menyiapkan landasan terbaik bagi generasi muda Indonesia ke depannya. Ia mengatakan, keputusannya mau menjadi cawapres bisa menjadi contoh agar para santri tak berkecil hati. "Santri bisa jadi apa saja. Bisa jadi wapres. Nah, saya ini jadi cawapres. Santri bisa jadi presiden. Buktinya, Gus Dur itu presiden. Santri bisa jadi presiden apa tidak? Bisa. Maka santri harus berbesar hati dan bersemangat. Siapa tahu presiden nanti dari Tasik dan sekitarnya," kata Ma'ruf.
"Ada yang bilang Kiai Ma'ruf ini hanya sebagai 'alat saja', ini isu yang kejam. Masa Rais Aam bisa jadi alat? Kebangetan itu. Jangan didengar," kata Ma'ruf di hadapan para peserta halaqah di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat pada Senin, 22 Oktober 2018.
BANDARQ - Ma'ruf juga menegaskan bahwa dirinya sudah memiliki pengalaman yang cukup dalam bidang politik. Ia menyinggung kembali kiprahnya di badan legislatif, Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) hingga sebagai salah satu Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Ia juga menegaskan, Jokowi memilih dirinya atas pertimbangan yang matang.
Padahal menurut Ma'ruf, Jokowi bisa saja memilih pendamping dari kalangan lain. "Tapi Pak Jokowi memilih saya, (dari kalangan) kiai dan santri. Berarti Jokowi mencintai ulama, mencintai santri," katanya.
Ma'ruf menegaskan, keputusannya untuk mendampingi Jokowi di Pilpres 2019 bukan semata-mata karena persoalan kekuasaan. Ia ingin berkontribusi lebih dengan menyiapkan landasan terbaik bagi generasi muda Indonesia ke depannya. Ia mengatakan, keputusannya mau menjadi cawapres bisa menjadi contoh agar para santri tak berkecil hati. "Santri bisa jadi apa saja. Bisa jadi wapres. Nah, saya ini jadi cawapres. Santri bisa jadi presiden. Buktinya, Gus Dur itu presiden. Santri bisa jadi presiden apa tidak? Bisa. Maka santri harus berbesar hati dan bersemangat. Siapa tahu presiden nanti dari Tasik dan sekitarnya," kata Ma'ruf.

